On Becoming Good Facilitator (2): Funky… Kenapa Ngga? |
|
|
Oleh : Ditto Santoso
Saya tidak mau membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi yang pasti, saya mau menjawabnya untuk diri saya sendiri. “Tentu saja pernahhh!!!” Bertolak dari itu, ketika saya menggeluti pekerjaan sebagai fasilitator, saya memancangkan niat untuk tidak menjadi fasilitator yang bikin bosan, bikin bete, dan bikin pusing. “Jadilah fasilitator yang selalu bikin orang happy, Bung!” demikian perintah saya pada diri sendiri. Berangkat dari itulah, saya merefleksikan pengalaman memfasilitasi saya dalam sebuah rumusan yang saya sebut “FUNKY” (Bahasa Indonesia: “lucu”). Mungkin tidak semua fasilitator setuju ataupun cocok dengan gaya ini, karena setiap fasilitator memiliki gaya dan keunikannya sendiri. Tapi izinkanlah saya berbagi. Mudah-mudahan bermanfaat, khususnya bagi tim fasilitator dan motivator kopdit. FUN (menyenangkan). Tantangan besar bagi seorang fasilitator, setidaknya menurut saya, ialah membuat kelas dimana ia mentransfer pengetahuan atau ketrampilan menjadi sebuah kelas yang menyenangkan. Ogah banget buat saya untuk berlaku menjadi seperti seorang petinggi yang menyampaikan instruksi ke bawahannya dalam kondisi yang kaku. Bagaimana caranya? Berbagai macam permainan (game) saya gunakan sebagai media pelatihan. Artinya, tidak sekadar saya gunakan sebagai pemecah kebekuan (icebreaker) atau penyemangat (energizer), melainkan sebagai media yang menghantar peserta masuk ke dalam materi. Lagu, pengalaman, atau cerita humor juga bisa menjadi media untuk membuat suasana jadi menyenangkan (untuk soal ini, Kopdit Melati sudah memiliki fasilitator kelas wahidnya, yaitu Eyang Christ, yang terkenal dengan humor-humornya yang khas). UNIQUE (unik). Unik? Ya, unik. Seorang fasilitator memiliki gaya tersendiri dalam membawakan materi yang tentunya berbeda dengan fasilitator lain. Satu orang suka bergaya pencerita (naratif), sementara yang lain suka membawakan permainan, lainnya lagi suka mendiskusikan kasus. Temukan keunikan dalam diri dan jadikan itu sebagai kekuatan dalam memfasilitasi. Bagaimana jika sulit menemukan keunikan dalam diri? Cobalah belajar menggunakan metode ATM (Amati-Tiru-Modifikasi) atau 3N (Niteni-Nirokke-Nambahi). Amati seorang fasilitator favorit Anda, tiru gayanya, dan modifikasi seiring dengan meningkatnya pengalaman dan pembelajaran Anda. eNthusiasm (antusiasme). Sederhana saja. Bagaimana membuat peserta antusias mengikuti sesi yang Anda fasilitasi jika Anda sendiri tidak tampak antusias di depan mereka? Jangan sampai terlihat 5L (Lemah-Letih-Lesu-Loyo-Lunglai) di depan peserta meskipun baru saja mempersiapkan materi yang akan disampaikan semalam suntuk. Key succes factors (faktor kunci keberhasilan). Apa kunci utama untuk menjadi seorang funky facilitator ala seorang Ditto? Menurut saya, ada 3 kunci minimal yang bisa disingkat sebagai “AIM”. “AIM” kependekan dari “Atmosphere – Interaction – Method & Media”. Ciptakan atmosfer atau situasi yang nyaman dan menyenangkan buat peserta dalam proses belajar bersama, bangun interaksi positif melalui komunikasi 2 arah, dan siapkan metode serta media pendukung yang tepat untuk materi yang diberikan. Dengan 3 kunci ini, harapannya sesi yang difasilitasi bisa menjadi sesi yang benar-benar fun! (saya akan membahas metode dan media secara khusus dalam tulisan yang lain) Lantas, “Y”-nya apa? Dalam Bahasa Inggris, “Y” dibaca sebagai “why”... jadi “Y”-nya ialah “Why not?”, “Mengapa tidak?”. Mengapa tidak menjadi seorang funky facilitator jika itu memang cara yang bisa membuat proses belajar bersama menjadi lebih hidup dan menyenangkan? Ngapain takut dan ngga pede, jika itu memang menjadi kekuatan Anda dalam memfasilitasi? Selamat menjadi funky facilitator! Salam Credit Union! |
