Koperasi Raksasa India |
|
|
Oleh : RAY Soesilo
Yang mencengangkan adalah 600 juta penduduk miskin tadi berhimpun dalam koperasi secara bersama-sama. Hebat sekali ! Dalam tulisan tadi, mereka mencanangkan tahun 2025 akan naik kelas penduduk miskin ke penduduk menengah. Itu semua berkat koperasi !
Penduduk miskin berbuat banyak dengan cara anak-anak yang masih balita (0 – 5) sudah diperkenalkan dengan kehidupan berkoperasi, berkelompok, dan berusaha bersama-sama. Lalu usia sekolah, perlu mentaati aturan-aturan berkoperasi, agar kelak menjadi pemandu koperasi di usia dini. Mahasiswa yang cukup pintar dari kalangan bawah (baca miskin) diberi beasiswa untuk meraih sarjana dan bekerja langsung di Koperasi-koperasi dari Tingkat Pusat sampai kepelosok-pelosok desa atau daerah terpencil. Penduduk miskin India yang kumuh, hitam, tak berpendidikan, dan dianggap remeh, telah lahir mutiara-mutiara cemerlang tingkat dunia : Mahatma Gandhi, Nehru, Ibu Theresa, dll tokoh dunia yang bak platinum tak lekang oleh cuaca. Juga, para penduduk miskin yang kebanyakan berkasta paling rendah yang berprinsip hidup : “Tabah dalam kebersahajaan dan bersikap enggan mengeluh”. Memang, nanti pada tahun 2025 akan memancar ekonomi besar di India. Dari mana ? Dari mana lagi kalau bukan dari gerakan Koperasi mereka yang didukung 600 – 700 juta orang. Luar biasa ! Hitungan kasar sebagai berikut, seandainya seseorang peserta anggota CU di India, memiliki tabungan Rp 8 juta maka dengan 600 juta orang Koperasi memiliki Aset = 600 juta x Rp 8 juta = Rp 4.800 trilyun atau sepadan US$ 565 milyar (1 US$ = Rp 8.500). Ini uang tidak sedikit bagi koperasi. Nah, begitu besar fungsi Koperasi di India, sehingga pantaslah kalau tahun 2025 semua usaha akan berbentuk Koperasi. Ada hal yang getir, ada penduduk India yang begitu cintanya terhadap koperasi, maka ia hanya tahu tempat menyimpan/menabung uang di Koperasi, dan malahan tidak mengenal bank. Menjadi mencengangkan juga, bahwa bentuk koperasi memang sangat unik, antara lain :
Menjadi pantaslah, kalau India 50% penduduknya berkoperasi aktif yaitu 600 juta, maka di USA 30% penduduknya ber CU secara aktif yaitu 80 juta, sedangkan di Indonesia (RI) penduduk berkoperasi sebanyak 10% dari penduduk yaitu 25 juta orang. Melalui koperasi, maka manusia sudah mulai sadar akan manfaatnya. Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia sangat faham akan manfaat koperasi, terutama bagi “wong cilik”, yang ekonominya pas-pasan. Dari India dan USA kita bisa belajar banyak tentang CU, lalu apa kata kunci mereka koq sukses ??? Jawabannya sangat sederhana dan simple, tetapi sangat sulit dijabarkan, yaitu : “Semua anggota Koperasi perlu berpendidikan koperasi secara baik, yaitu dari tingkat dasar sampai tingkat lanjutan”. Kata-kata kunci ini mudah diucapkan sulit dijalankan. Barangkali (maaf beribu maaf), terpuruknya koperasi-koperasi di Indonesia karena kurang pendidikan koperasi dari primer-primer sampai Induk-Induk Koperasi. Semoga perkiraan saya salah ! Apakah ada di RI ini Koperasi yang menjalankan Pendidikan Koperasi secara konsekwen. Penulis tahu, ada yang konsekwen, yaitu Koperasi Kredit (= Credit Union) dimana se-Indonesia anggotanya sudah 1,70 juta, bertotal asset sudah Rp 10 trilyun lebih atau rata-rata tabungan anggotanya @ Rp 6 juta per orang. Uang sebesar itu berkat Tabungan swadaya anggota secara self help. Sekian dahulu kita menyorot Koperasi di Negara tetangga sambil berhitung-hitung, kapan Indonesia koperasinya hebat, tetapi yang benar-benar tanpa bantuan dari siapapun (swadaya), seperti cita-cita Bung Hatta (Sumber Berbagai Website & Buletin 2011).
|
