Pelatihan Manajemen Risiko Puskopdit |
|
|
CIBADAK 21 – 23 OKTOBER 2011 Oleh : RAY Soesilo, Manajer CU Melati, Depok “Risk management adalah upaya terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan organisasi terkait dengan risiko” (Munaldus, Risk Manajemen) Prakata Jatidiri koperasi berisi pengertian koperasi, nilai-nilai koperasi dan Prinsip-prinsip koperasi, ketiganya tak boleh dipisahkan. Manajemen Risiko adalah salah satu cara untuk mengawal Jatidiri koperasi tadi sampai ketujuan dari strateginya.
Peserta Senyum mengembang tatkala matahari memancar di hari jum’at. Kedatangan kami tumpangi dari Depok pukul 8 pagi dan sampai di Cibadak pukul 10.30. Kali ini peserta Pelatihan cukup banyak, yaitu 32 orang, dan dari jauhpun berdatangan untuk menimba ilmu Manajemen Risiko. Maklum saja, ilmu ini baru pertama kali diajarkan di Puskopdit Cibadak. Peserta Manajemen Risiko:
Total : 32 orang Maju Terus Pada awalnya, oleh Bp. Haji Ishak, saat pembukaan hari Jum’at jam 19.00 ditekankan bahwa ilmu Kopdit akan terus berkembang mengikuti jaman. Jadi, kalau kita belajar ilmu social Kopdit yang baru, pasti sangat berguna bagi Kopdit/Kopkarnya, entah untuk sekarang maupun kelak kemudian hari. Rangsangan untuk terus maju menambah ilmu patut kita syukuri, agar Puskopdit BB beserta koperasi-koperasi binaanya tak ketinggalan dalam era baru yang terus berubah. Pada hari kedua, Sabtu, Pelatihan Manajemen Risiko juga didatangi dan ditunggui oleh Pengawas Inkopdit : Drs. Sutanto A. Hamid Ak yang merupakan kehormatan bagi kita semua untuk belajar lebih tekun. Banyak petunjuk dari beliau untuk perbaikan materi, antara lain urutan sesi ada yang keliru. Namun dalam keseluruhan, beliau mengatakan sudah baik dan cukup bermutu. Beliau agak kaget, bahwa ada utusan dari CU Pelita Usaha (Temanggung) dan CU Merpati (Pasar Minggu) ikut berpartisipasi aktif. Memang, kalau CU mau maju maka perlu maju terus dalam TRILOGI (Pendidikan – Solidaritas – Swadaya Modal). Hari Pertama Setelah pembukuan lalu diisi oleh Bp. Wiratmoko sambil berkenalan satu dengan yang lain. Penekanan pada risiko yang selalu ada disetiap usaha harus disadari benar-benar. Oleh karena itu manusia perlu memanage risiko dengan cara dikelola secara matang. Setiap Kopdit pasti punya risiko, entah besar, kecil, atau sangat menghantui risiko tadi. Pada kueseer yang ditulis oleh masing-masing Kopdit, tertera dengan jelas bahwa piutang/pinjaman lalai menjadi “hantu” risiko yang perlu diwaspadai. Urutan kedua dan ketiga adalah masalah keuangan dan baru masalah SDM. Hari Kedua Hari Sabtu nan cerah, udara bersih dan sejuk. Namun jam 6.00 pagi sudah sarapan semua, lalu siap-siap melahap 6 sesi di hari kedua. Dimulai oleh Bp. Budi Widyatmoko Selintas Teori Risiko di Kopdit sejak CU berdiri 1900 lalu ada CUNA (Assuransi) 1935 sampai dengan Prinsip-prinsip Manajemen Risiko (ISO 31000). Sesi kedua diisi pak Wiratmoko dengan memahami Istilah-istilah Tahapan-Tahapan Supervisi (Pengawasan) Manajemen Risiko yang mengarah pada 20 (dua puluh item) yang harus dikelola oleh tiap kopdit, yaitu : Risiko Bisnis ada 12 buah
Risiko Kontrol (Control Risk)
Dari hal diatas ternyata No 6 s/d 11 adalah PEARLS. Pada sesi ketiga (hari kedua) pada Tahapan-tahapan supervisi perlu sekali mengenal RTO (Risk to Objective) yaitu ada 5 macam, yaitu:
Kita mengenal RTO harus sedemikian tajam, sebab dari kelima tadi akan mengarah pada 3 hal, yaitu Sasaran Supervisi (Sasaran Pengawasan)
Sesi ini cukup memeras keringat untuk memahami, tetapi pelatihan kali ini diberi keleluasaan dimana materi/buku diberikan lebih dulu, sehingga mengikuti lebih mudah. Pada sesi ke4 (hari kedua), mulai mengisi Laporan Risiko yaitu peta risiko yang berisi ke 20 item risiko dikomunikasikan dengan RTO, lalu diisi dengan Rentangan Risiko, yaitu :
Diakui memang Manajemen Risiko cukup sulit, tetapi Peta Risiko ini perlu dibuat oleh Kopdit setiap bulan, guna mengetahui :
Sesi ke 5 (hari kedua) lebih banyak menyoroti cara-cara pengawasan risiko, yaitu prosedur, program pengujian risiko dll, lalu sekali lagi mengetrapkan Peta risiko (20 item) agar lebih mantap dalam pengetrapan manajemen risiko. Sesi kelima ini memang sangat perlu yaitu Pengembangan Program Mitigasi risiko, adapun alatnya ada 4 kelompok, yaitu : Supervisiory Tools
Sesi keenam pada hari kedua, lebih banyak bekerja dalam kelompok, yaitu setiap CU/Kopdit/Kopkar masing-masing untuk mengisi beberapa pertanyaan yang mengarah pada diagnosis penyakit-penyakit berbahaya di Kopdit/CU antara lain :
Penyakit-penyakit di CU akan terus bertambah dan tugas kita semua untuk mewaspadai agar tidak menjadi penyakit kanker, yang bisa merambah kemana-mana dan bisa mematikan secara tiba-tiba, umpama seperti penyakit jantung. Jenis Risiko (= penyakit) pada koperasi kredit, sangat berlain-lainan disetiap daerah, provinsi, kabupaten, kota dan setiap kebiasaan suku tertentu, namun itu semua bisa kita pelajari dan amati lalu bisa mengambil suatu tindakan yang pas untuk memasarkan produk-produk kopdit. Apabila tidak puas, maka produk kita tidak akan laku, dan malahan mubazir. Pada hari kedua (Sabtu) tersebut, pelatihan berakhir pukul 21.00, namun karena materi tetap menarik, maka tak terasa kantuk dan tetap segar. Tanggapan peserta
Hari ketiga Hari Minggu, hari terakhir pelatihan usara sangat ramah dan pelatihan dimulai pukul 07.30 oleh Bp. Soesilo untuk 3 sesi yaitu : a. Investigasi Pinjaman. b. Upaya penanggulangan manajemen risiko. c. Meminimalkan risiko di Kopdit (5 kasus). Sebetulnya pengurangan risiko yang praktis, dimulai dari sejak awal, yaitu saat mereka mengajukan pinjaman. formulir pinjaman perlu lengkap dan bisa terekam semua latar belakang dari pada sipeminjam. Hal ini guna menjaga, kalau sampai mereka lalai mengangsur, bisa cepat dihubungi lewat telpon, HP, kantor ybs, alamat ybs, Istreri ybs, sampai ke alamat ahli warisnya. Ini penting sekali. Kalau data anggota kurang lengkap, jangan harap uang kembali ke Kopdit/Kopkar. Foto kopi KTP saat mau meminjam sangat menolong menelusuri kalau sipeminjam kabur, apalagi dilengkapi dengan foto kopi Kartu Keluarga. Risiko-risiko sangat banyak di Kopdit, tetapi menurut map risiko atau peta risiko, yang harus dikelola ada 20 point. Pada ketiga sesi di hari MInggu ini, lebih banyak kita bicarakan praktek sehari-hari di Kopdit/Kopkar umpama rentang waktu masuk surat permohonan pinjaman sampai dengan cair uang, maksimum 5 hari. Hal ini terperinci sebagai berikut : untuk envestigasi/survey /2 hari dan persiapan urutan serta wawancara 1 – 2 hari, dan Rapat kredit 1 hari, hari pencairan jatuh maka hari ke 5. Sedangkan kalau ditolak (dan harus membuat Surat Permohonan Pinjaman yang baru) perlu waktu lebih lama. Upaya meminimalkan risiko-risiko sangat banyak contoh dan caranya, asalkan mau melaksanakan saja, sebab faktor manusia sangat memegang peran penting. Sekali lagi, Manajemen Risiko harus digelar dengan “Peta risiko” yang berisi 20 item yang perlu diwaspadai. Sukses atau ambruknya CU, tergantung mampu atau tidaknya mengatasi mitigasi risiko yaitu tindakan yang dirancang untuk menangani berbagai isu yang teridentifikasi pada tahap penilaian risiko (asal muasal risiko, hasil yang diinginkan, tindakan yang harus diambil) oleh para supervisi (= Pengawas risiko). Penutup Memang, belajar selintas Manajemen Risiko tidak cukup cuma 3 hari, tetapi dibutuhkan juga praktek secara nyata dengan mengambil sampel 3 CU yang berbeda, yaitu CU yang beres administrasinya, CU yang setengah baik administrasinya dan CU yang benar-benar brengsek. Dari situlah lalu bisa kita sandingkan hasil supervisi Manajemen Risiko. Sekian dahulu sampai jumpa.
|
