Visi & Misi

Visi

Kopdit CU Melati yang kuat, profesional, mengutamakan pelayanan, pendidikan, swadaya modal, berdasarkan nilai-nilai jatidiri koperasi.

 

Misi

  1. Membantu terciptanya lapangan pekerjaan bagi anggota
  2. Meningkatkan bertambahnya anggota dengan syarat pendidikan yang memadai
  3. Memperkokoh Struktur Organisasi Kopdit dengan pelayanan di segala bidang

Penggerak

 

 

Pelatihan Manajemen Risiko Puskopdit

PDF

CIBADAK 21 – 23 OKTOBER 2011

Oleh : RAY Soesilo, Manajer CU Melati, Depok

“Risk management adalah upaya terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan organisasi terkait dengan risiko” (Munaldus, Risk Manajemen)

Prakata

Jatidiri koperasi berisi pengertian koperasi, nilai-nilai koperasi dan Prinsip-prinsip koperasi, ketiganya tak boleh dipisahkan. Manajemen Risiko adalah salah satu cara untuk mengawal Jatidiri koperasi tadi sampai ketujuan dari strateginya.

 

Peserta

Senyum mengembang tatkala matahari memancar di hari jum’at. Kedatangan kami tumpangi dari Depok pukul 8 pagi dan sampai di Cibadak pukul 10.30.

Kali ini peserta Pelatihan cukup banyak, yaitu 32 orang, dan dari jauhpun berdatangan untuk menimba ilmu Manajemen Risiko. Maklum saja, ilmu ini baru pertama kali diajarkan di Puskopdit Cibadak.

Peserta Manajemen Risiko:

  1. Kopdit Branta Mulia : 5 orang
  2. Kopdit Melati : 3 orang
  3. Kopdit Sejahtera : 1 orang
  4. Kopdit Bina Mandiri : 3 orang
  5. Kopdit Pelita Usaha (Tmg) : 3 orang
  6. Kopdit Merpati (Ps Minggu) : 2 orang
  7. Kopdit Jembar : 1 orang
  8. Kopdit Cemara Lestari : 1 orang
  9. Kopdit Binekas : 1 orang
  10. Kopdit Daya Guna Bogor : 2 orang
  11. Kopdit GKPK : 1 orang
  12. Kopdit SQIBB : 2 orang
  13. Kopdit Simpati : 2 orang
  14. Kopdit Tunas Mekar : 2 orang

Total : 32 orang

Maju Terus

Pada awalnya, oleh Bp. Haji Ishak, saat pembukaan hari Jum’at jam 19.00 ditekankan bahwa ilmu Kopdit akan terus berkembang mengikuti jaman. Jadi, kalau kita belajar ilmu social Kopdit yang baru, pasti sangat berguna bagi Kopdit/Kopkarnya, entah untuk sekarang maupun kelak kemudian hari. Rangsangan untuk terus maju menambah ilmu patut kita syukuri, agar Puskopdit BB beserta koperasi-koperasi binaanya tak ketinggalan dalam era baru yang terus berubah.

Pada hari kedua, Sabtu, Pelatihan Manajemen Risiko juga didatangi dan ditunggui oleh Pengawas Inkopdit : Drs. Sutanto A. Hamid Ak yang merupakan kehormatan bagi kita semua untuk belajar lebih tekun. Banyak petunjuk dari beliau untuk perbaikan materi, antara lain urutan sesi ada yang keliru. Namun dalam keseluruhan, beliau mengatakan sudah baik dan cukup bermutu. Beliau agak kaget, bahwa ada utusan dari CU Pelita Usaha (Temanggung) dan CU Merpati (Pasar Minggu) ikut berpartisipasi aktif.

Memang, kalau CU mau maju maka perlu maju terus dalam TRILOGI (Pendidikan – Solidaritas – Swadaya Modal).

Hari Pertama

Setelah pembukuan lalu diisi oleh Bp. Wiratmoko sambil berkenalan satu dengan yang lain. Penekanan pada risiko yang selalu ada disetiap usaha harus disadari benar-benar. Oleh karena itu manusia perlu memanage risiko dengan cara dikelola secara matang. Setiap Kopdit pasti punya risiko, entah besar, kecil, atau sangat menghantui risiko tadi. Pada kueseer yang ditulis oleh masing-masing Kopdit, tertera dengan jelas bahwa piutang/pinjaman lalai menjadi “hantu” risiko yang perlu diwaspadai. Urutan kedua dan ketiga adalah masalah keuangan dan baru masalah SDM.

Hari Kedua

Hari Sabtu nan cerah, udara bersih dan sejuk. Namun jam 6.00 pagi sudah sarapan semua, lalu siap-siap melahap 6 sesi di hari kedua. Dimulai oleh Bp. Budi Widyatmoko Selintas Teori Risiko di Kopdit sejak CU berdiri 1900 lalu ada CUNA (Assuransi) 1935 sampai dengan Prinsip-prinsip Manajemen Risiko (ISO 31000).

Sesi kedua diisi pak Wiratmoko dengan memahami Istilah-istilah Tahapan-Tahapan Supervisi (Pengawasan) Manajemen Risiko yang mengarah pada 20 (dua puluh item) yang harus dikelola oleh tiap kopdit, yaitu :

Risiko Bisnis ada 12 buah

  1. Kualitas Strategi
  2. Risiko Kredit
  3. Risiko Pasar
  4. Risiko Operasional
  5. Risiko Hukum
  6. Perlindungan Aset
  7. Struktur Keuangan Efektif
  8. Kualitas Aset
  9. Tingkat Pendapatan dan Biaya
  10. Likuiditas
  11. Tanda-tanda Pertumbuhan
  12. Jenis Anggota

Risiko Kontrol (Control Risk)

  1. Penyampaian Pelayanan Pelatihan rekruitmen, penggajian dan keselamatan anggota
  2. Keterbukaan dan kecukupan literatur produk
  3. Kejelasan pemilik/Struktur Kelompok
  4. Sistem Manajemen Risiko
  5. Teknologi Informasi & Komunikasi
  6. Audit Internal
  7. Tata kelola dan SDM
  8. Hubungan dengan Regulator

Dari hal diatas ternyata No 6 s/d 11 adalah PEARLS. Pada sesi ketiga (hari kedua) pada Tahapan-tahapan supervisi perlu sekali mengenal RTO (Risk to Objective) yaitu ada 5 macam, yaitu:

  1. Kegagalan Keuangan
  2. Mis-manajemen
  3. Tata Kelola CU yang buruk
  4. Pemahaman Anggota yang lemah
  5. Kejahatan Keuangan, kecurangan/ketidakjujuran

Kita mengenal RTO harus sedemikian tajam, sebab dari kelima tadi akan mengarah pada 3 hal, yaitu Sasaran Supervisi (Sasaran Pengawasan)

Sasaran Supervisi RTO
1 Meningkatkan keamanan dan kesehatan (Safety and Soundness)
  1. Kegagalan Keuangan
  2. Tata Kelola yang buruk
  3. Mis-manajemen dan penyalahgunaan wewenang yang meluas
  4. Kejahatan keuangan, kecurangan/ketidakjujuran
2 Memastikan perlindungan terhadap kepentingan anggota
  1. Kegagalan Keuangan
  2. Tata Kelola yang buruk
  3. Mis-manajemen dan penyalahgunaan wewenang yang meluas
  4. Kejahatan keuangan, kecurangan/ketidakjujuran
3
Pengurangan kejahatan keuangan
  1. Kejahatan keuangan, kecurangan/ketidakjujuran/fraud

Sesi ini cukup memeras keringat untuk memahami, tetapi pelatihan kali ini diberi keleluasaan dimana materi/buku diberikan lebih dulu, sehingga mengikuti lebih mudah.

Pada sesi ke4 (hari kedua), mulai mengisi Laporan Risiko yaitu peta risiko yang berisi ke 20 item risiko dikomunikasikan dengan RTO, lalu diisi dengan Rentangan Risiko, yaitu :

Skala Keterangan CU Mengharap
1 (satu) Sangat rendah Risiko kecil sekali
2 (dua) Rendah Risiko kecil
3 (tiga) Menengah (medium) Risiko ada saja
4 (empat) Tinggi Risiko dihindari
5 (lima) Sangat Tinggi Risiko sebisa-bisa dihindari

Diakui memang Manajemen Risiko cukup sulit, tetapi Peta Risiko ini perlu dibuat oleh Kopdit setiap bulan, guna mengetahui :

  1. Dimana letak risiko paling tinggi, kalau dirisiko Bisnis, disebelah mana ? Kalau disebelah Risiko kontrol, pada sektor apa ?
  2. Risiko manajemen, perlu dibuat terbuka oleh Pengurus/Manajemen, sehingga fihak Pengawas bisa cepat bertindak membenahi atas risiko-risiko tinggi tersebut dan mencari akar masalahnya, lalu diperbaiki.
  3. Risiko manajemen merupakan ilmu manajemen maka bisa dan perlu menggunakan fungsi-fungsinya yaitu membuat plan risiko sedemikian rupa, sehingga risiko selalu bisa terkontrol dengan baik.
  4. Peta risiko dibuat oleh ACCU, maka kita bisa memakai secara jelas kearah mana kemauan ACCU membinja Primer-primer sejagad Asia. Ini penting agar semua CU/Primer selalu tahu risiko-risiko mana yang perlu ditanggulangi dengan supervisi penuh dan dengan upaya maksimum.

Sesi ke 5 (hari kedua) lebih banyak menyoroti cara-cara pengawasan risiko, yaitu prosedur, program pengujian risiko dll, lalu sekali lagi mengetrapkan Peta risiko (20 item) agar lebih mantap dalam pengetrapan manajemen risiko.

Sesi kelima ini memang sangat perlu yaitu Pengembangan Program Mitigasi risiko, adapun alatnya ada 4 kelompok, yaitu :

Supervisiory Tools

Diagnostik Monitoring Preventif Remedial
  • On-site dan off-site examination
  • Investigasi
  • Risk assesment
  • Pengawasan dari luar (off-site surveyliance)
  • Kunjungan lapangan (on-site visits)
  • Auditor internal
  • Pengungkapan (disclosures)
  • Pernyataan publik
  • Standar-standar aturan
  • Standar-standar sistem credit union (federasi nasional) seperti ACCESS
  • Contingency planning
  • Alat-alat manajemen (kebijakan sistem dan prosedur)
  • Skema kompensasi
  • Penyelesaian keluhan
  • Tindakan pendisiplinan
  • Intervensi
  • Hukuman/Sanksi
  • Amalgamasi
  • Penghentian (suspension)
  • Termination

Sesi keenam pada hari kedua, lebih banyak bekerja dalam kelompok, yaitu setiap CU/Kopdit/Kopkar masing-masing untuk mengisi beberapa pertanyaan yang mengarah pada diagnosis penyakit-penyakit berbahaya di Kopdit/CU antara lain :

  1. Citra pribadi lebih menonjol dari citra Kopditnya
  2. Terjadi klik-klik didalam CU/Kopdit
  3. ABS (Asal bapak Senang), tradisi penjilat
  4. Kepemimpinan yang stagnak
  5. Tidak pernah ada fihak luar yang menilai Kopdit/CU
  6. CU dalam keadaan lemag/boros
  7. CU bercitra buruk di masyarakat
  8. Produk-produk dan Pelayanan-pelayanan sudah using/kuno
  9. Keanggotaan kecil/sedikit. Mudah puas diri
  10. Volume pencairan pinjaman kecil, cepat puas saja.
  11. Mentalitas makan gratis. “Free Lunch mentality”
  12. Mentalitas semangat menabung dari anggota sedikit
  13. Fokus pada mencari pinjaman dan sumbangan dari fihak luar
  14. Pertumbuhan yang tak teratur
  15. Sangat rendahnya likuiditas
  16. Kualitas pendampingan dari sekunder CU/Puskopdit, sangat rendah
  17. Sering Seminar & Lokakarya, tetapi rendah kualitasnya
  18. Menggunakan teknologi (IT), tetapi manfaat pelayanan pada anggota kurang
  19. Praktek akuntansi yang buruk
  20. Laporan Keuangan yang terbatas
  21. Data tidak imbang, sehingga sulit dipercaya
  22. Informasi negatif disembunyikan, sehingga anggota kurang faham
  23. Kemacetan pinjaman yang berlarut-larut
  24. Dana Cadangan risiko untuk pinjaman lalai kurang
  25. Modal Lembaga yang lemah (SP, SW, Cadangan-cadangan)
  26. Likuiditas keuangan yang lemah
  27. Azas mufakat, musyawarah hilang, diganti Individualisme
  28. Demokrasi hilang, yang ada satu suara saja
  29. Diam-diam melakukan bisnis bukan dengan anggota
  30. CU hanya mencari profit, bukan peningkatan pelayanan

Penyakit-penyakit di CU akan terus bertambah dan tugas kita semua untuk mewaspadai agar tidak menjadi penyakit kanker, yang bisa merambah kemana-mana dan bisa mematikan secara tiba-tiba, umpama seperti penyakit jantung.

Jenis Risiko (= penyakit) pada koperasi kredit, sangat berlain-lainan disetiap daerah, provinsi, kabupaten, kota dan setiap kebiasaan suku tertentu, namun itu semua bisa kita pelajari dan amati lalu bisa mengambil suatu tindakan yang pas untuk memasarkan produk-produk kopdit. Apabila tidak puas, maka produk kita tidak akan laku, dan malahan mubazir.

Pada hari kedua (Sabtu) tersebut, pelatihan berakhir pukul 21.00, namun karena materi tetap menarik, maka tak terasa kantuk dan tetap segar.

Tanggapan peserta

  1. “Benar-benar menambah ilmu, “kata seorang peserta luar kota
  2. “Saya semakin sadar ternyata mengelola Kopdit itu harus banyak ilmu manajemennya”, kata seorang ibu yang rajin mencatat.
  3. “Untung sekali, buku Manejemen Risiko dibagi dulu, kita mengikuti fasilitator sudah mulai mudah. Tinggal member garis-garis yang penting saja!”, kata seorang Bapak yang rajin mengikuti dengan tekun.
  4. “Kopdit kalau dikelola ngawur, pasti hancur,” kata peserta yang masih muda beliau tetapi aktif

Hari ketiga

Hari Minggu, hari terakhir pelatihan usara sangat ramah dan pelatihan dimulai pukul 07.30 oleh Bp. Soesilo untuk 3 sesi yaitu : a. Investigasi Pinjaman. b. Upaya penanggulangan manajemen risiko. c. Meminimalkan risiko di Kopdit (5 kasus). Sebetulnya pengurangan risiko yang praktis, dimulai dari sejak awal, yaitu saat mereka mengajukan pinjaman. formulir  pinjaman perlu lengkap dan bisa terekam semua latar belakang dari pada sipeminjam. Hal ini guna menjaga, kalau sampai mereka lalai mengangsur, bisa cepat dihubungi lewat telpon, HP, kantor ybs, alamat ybs, Istreri ybs, sampai ke alamat ahli warisnya. Ini penting sekali. Kalau data anggota kurang lengkap, jangan harap uang kembali ke Kopdit/Kopkar. Foto kopi KTP saat mau meminjam sangat menolong menelusuri kalau sipeminjam kabur, apalagi dilengkapi dengan foto kopi Kartu Keluarga.

Risiko-risiko sangat banyak di Kopdit, tetapi menurut map risiko atau peta risiko, yang harus dikelola ada 20 point.

Pada ketiga sesi di hari MInggu ini, lebih banyak kita bicarakan praktek sehari-hari di Kopdit/Kopkar umpama rentang waktu masuk surat permohonan pinjaman sampai dengan cair uang, maksimum 5 hari. Hal ini terperinci sebagai berikut : untuk envestigasi/survey /2 hari dan persiapan urutan serta wawancara 1 – 2 hari, dan Rapat kredit 1 hari, hari pencairan jatuh maka hari ke 5. Sedangkan kalau ditolak (dan harus membuat Surat Permohonan Pinjaman yang baru) perlu waktu lebih lama.

Upaya meminimalkan risiko-risiko sangat banyak contoh dan caranya, asalkan mau melaksanakan saja, sebab faktor manusia sangat memegang peran penting. Sekali lagi, Manajemen Risiko harus digelar dengan “Peta risiko” yang berisi 20 item yang perlu diwaspadai.

Sukses atau ambruknya CU, tergantung mampu atau tidaknya mengatasi mitigasi risiko yaitu tindakan yang dirancang untuk menangani berbagai isu yang teridentifikasi pada tahap penilaian risiko (asal muasal risiko, hasil yang diinginkan, tindakan yang harus diambil) oleh para supervisi (= Pengawas risiko).

Penutup

Memang, belajar selintas Manajemen Risiko tidak cukup cuma 3 hari, tetapi dibutuhkan juga praktek secara nyata dengan mengambil sampel 3 CU yang berbeda, yaitu CU yang beres administrasinya, CU yang setengah baik administrasinya dan CU yang benar-benar brengsek. Dari situlah lalu bisa kita sandingkan hasil supervisi Manajemen Risiko. Sekian dahulu sampai jumpa.

 
joomla templateinternet security reviews

Alamat & Badan Hukum

Jalan Arif Rachman Hakim (Turi) No. 29B, Beji
Depok 16422
Telepon (021) 77200712

 

Badan Hukum No. 166/BH/PAD/KUKM/1.2/IV/2004
Tanggal 9 Mei 2004

Statistik Pengunjung

Hari Ini1
Kemarin24
Minggu Ini64
Bulan Ini409
Seluruhnya4956
University template joomla by internet security review