Mengelola BRAND Servis Sensasi dan Solusi |
|
|
Oleh: Christ
Kebanyakan Kopdit kita belum memiliki brand, bahkan masih banyak pengurus kopdit yang kurang faham apa itu sebenarnya brand. Kalau toh ada maka brand Kopdit tidaklah semenarik brand-brand yang lain. Kita sering baca tulisan atau plang besar dengan huruf-huruf menyolok : COLUMBIA. Tanpa diajari kita tau persis bahwa Columbia adalah perusahaan yang bergerak dibidang perkreditan. Apakah itu berupa prabot rumah tangga bahkan juga speda motor. Columbia dengan berani pasang iklan “Peduli Guru” yaitu memberikan motor gratis kepada para guru teladan.. dengan demikian masyarakat percaya bahwa kredit motor yang paling tepat dan aman adalah di Columbia. Mereka para guru sebenarnya juga bisa saja sebagai target pasar Kopdit, tetapi Columbia dalam membangun strategi brand jauh lebih menarik daripada Kopdit, maka masyarakat akan lebih mengenal Columbia dibandingkan Kopdit. Bahkan dalam membangun brand Kopdit jauh ketinggalan dengan usaha jasa keuangan yang berani menempel iklan di pohon-pohon pinggir jalan : Anda Perlu Uang Tunai? Satu jam cair hanya dengan jaminan BPKB. Coba kita pikirkan bersama, apa sebenarnya brand yang kita (Kopdit) pakai sebagai andalan dalam meraup jumlah anggota? Pendidikan sebagai brand kita? Tetapi justru banyak yang mengatakan bahkan mengeluh, mau utang kok disuruh pendidikan. Jadi pendidikan adalah momok bagi mereka.
Brand memang perlu dikelola agar dapat memaksimalkan profitabilitas perusahaan yang dihasilkan dari loyalitas pelanggan atau anggota. Brand Manager memang salah satunya yang harus bertanggung jawab atas pengelolaan brand pada Kopditnya. Tugas pengelola brand meliputi : Servis, sensasi dan Solusi. Apakah Kopdit kita termasuk dalam lembaga pilihan masyarakat, atau justru mereka sama sekali tidak terfikirkan apa itu Kopdit? Memang brand perlu diperkenalkan (Brand awareness). Apakah masyarakat tahu benar bahwa Kopdit bukan sekedar tempat menabung, tetapi juga bisa meminjam? Bahkan beberap tokoh Kopdit menegaskan didepan calon anggotanya, bahwa masuk menjadi anggora Kopdit untuk belajar menabung, bukan meminjam.Dan ketika itu pula mereka tertunduk dan kecewa. Secara tidak sadar kita telah menyembunyikan sebagian produk andalan kita yaitu produk pinjaman. Jadi brand harus dikenal secara benar (Brand association). Apakah Kopdit telah memenuhi janjinya, bahwa pelayanan yang dirasakan oleh anggota sudah sesuai dengan brosur yang sering digelar didepan para anggota. Jadi brand harus sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya bagi anggota (perceived quality). Pengelolaan brand berikutnya adalah, apakah para anggota yang telah menggunakan produk Kopdit melakukan retensi penggunaan produk, mau merekomendasikan kepada orang lain, bahwa produk-produk Kopdit kita benar-benar mampu menutupi kebutuhan anggota. Kopdit harus mampu membentuk bahkan mengubah persepsi anggota terhadap Brand. Disini peranan pendidikan sangat dominan yakni melakukan pendidikan terhadap anggota dan calon anggota (customer education), sehingga anggota akan lebih peka dalam menangkap informasi maupun persepsi yang dipercaya oleh anggota selama ini. Kepercayaan masyarakat umumnya terbentuk oleh iklan-iklan yang menggigit. Seperti yang kita sering dengar meluncur deras dari lisan mereka : barang impor biasanya jauh lebih berkualitas. Ditergen yang baik selalu menghasilkan busa yang banyak. Rokok itu untuk pria yang jantan dan keren. Mau irit, ya pakai motor Honda. Apapun makanannya, minumnya teh botol Sosro. Mau pinjam duit, ya ke Bank. Masuk Kopdit untuk belajar menabung dan bukan untuk meminjam. Sementara Kopdit manakala seluruh anggotanya menabung dan tidak ada yang pinjam, maka runtuhlah Kopdit itu. Oleh karenanya harapan para anggota perlu dibangun, dan bukan dipupuskan. Jadi Kopdit adalah pilihan tepat dan aman untuk menabung dan meminjam. Dengan demikian harapan calon anggota untuk meminjam tumbuh kembali. Karena dibenak masyarakat kebanyakan, meminjam lebih menarik dari pada menabung. Ketertarikan itulah yang kita cari, walaupun nanti kita bangun persepsi mereka, bahwa sebelum meminjam haruslah menabung. Apalagi Kopdit masih memakai sistem kelipatan simpanan yang menentukan jumlah pinjaman.
|
