Visi & Misi

Visi

Kopdit CU Melati yang kuat, profesional, mengutamakan pelayanan, pendidikan, swadaya modal, berdasarkan nilai-nilai jatidiri koperasi.

 

Misi

  1. Membantu terciptanya lapangan pekerjaan bagi anggota
  2. Meningkatkan bertambahnya anggota dengan syarat pendidikan yang memadai
  3. Memperkokoh Struktur Organisasi Kopdit dengan pelayanan di segala bidang

Penggerak

 

 

Petuah Dan Tuah Koperasi

PDF

Oleh : RAY Soesilo

“Insan koperasi harus dibiasakan untuk terus menerus belajar menabung, agar kelak bisa self help koperasinya. Hal ini sulit, namun perlu dijalankan “(Intisari tulisan Bung Hattta, Bapak Koperasi Indonesia)

 

Prakata

“Tanpa bekerja keras, maka sesuatu didunia tak akan terwujud, kecuali ia diciptakan Tuhan menjadi pewaris dari konglomerat” (kata orang bijak)

Bung Hatta

Cukup sudah, tidur lelap selama 66 tahun dengan mimpi indah mengharap Negara aman, adil dan makmur. Sudah sangat lama, kita mengharap dari waktu ke waktu dari malam ke malam, kapan Negara ini bisa mensejahterakan warganya dengan adil.

Sejak 1945 kita berharap dan mendambakan koperasi menjadi benar-benar soko guru ekonomi Indonesia. Kalau saja kita mau berpikir sejenak, dimana letak kekeliruan koperasi yang dimana-mana remuk redam, dan terpateri dengan nama koperasi kurang dihargai di masyarakat

Sudah cukuplah Founding Father’s negeri ini meletakkan koperasi di UUD 1945 pada pasal 33 ? Kita sebagai warga Negara pecinta koperasi dengan jelas dan lantang mengatakan : “Bung Hatta, Bapak sudah cukup meletakkan dasar ekonomi kerakyatan di pasal 33 tersebut”.

Lalu menjadi pertanyaan, mungkinkah kita yang tak mampu menerjemahkan buah-buah pikiran beliau, apa kita kurang menggali makna-makna yang tersurat dan tersirat di buku-buku beliau ? Akan sederet panjang pertanyaan ini diteruskan, namun yang pasti satu kata kunci sudah kita kantongi, yaitu saat ini kita masih “terpuruk” dengan kegiatan koperasi di Indonesia.

Apabila kita telusuri koperasi-koperasi simpan pinjam di daerah-daerah, sungguh menyedihkan. Suatu Pemkot memiliki 900 koperasi, namun ternyata yang 500 koperasi jadi-jadian (tak beralamat), sedangkan yang 400 ada beralamat, tetapi yang mampu RAT cuma 40 koperasi. kesimpulan sementara hanya (40 : 900) x 100% = 4 – 5 % koperasi yang hidup di daerah-daerah pedesaan dan perkotaan.

Beberapa teman yang pernah keluar negeri, mengatakan bahwa koperasi di luar negeri lebih maju. betulkah ? Kita perlu ada data untuk perbandingan

Menelusuri butir-butir pikiran tulisan-tulisan di buku Bung Hatta, ternyata buah mutiara Bung hatta hanya sederet-deret kata yang seperti tak bermakna banyak, tetapi memendam kilau mutiara yang belum kita gosok bersama-sama. buah tulisan Bung Hatta (Bapak Koperasi), terdapat pada 3 kata yang mentakjubkan dan merupakan endapan beliau saat belajar ekonomi di Nederland Tahun 1922 – 1931 sebelum beliau kembali ke Indonesia. Banyak Negara dikunjungi beliau disana, terutama Negara-negara koperasi yang telah maju koperasinya.

Dari ketiga kata tersebut, kalau kita jabarkan dengan kata akan menghasilkan puluhan buku dan jutaan perbuatan para koperasiwan. Tiga kata tadi memang sulit dijalankan, tetapi sangat ampuh dan sangat tangguh untuk menjadikan ekonomi Indonesia benar-benar disokong oleh ekonomi kerakyatan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang easy going (serba tak mau report), dari bapak sampai rakyat kecil. Ini memang demikian, karena bangsa kita selalu di manja oleh alam yang menina bobokan kita semua. Dari sinilah menjadi jelas, kita lalu lupa mutiara warisan Bung Hatta. Kedua Bapak Proklamator kita Bung Karno dan Bung Hatta tak pernah meninggalkan harta karun berupa mutiara – emas – berlian – minyak – gas alam – tabungan di negara asing, tetapi mereka berdua meninggalkan suatu warisan yang sangat berharga bagi kita bangsa Indonesia, yang sangat berharga bagi kita bangsa Indonesia, yang satu meninggalkan warisan : Persatuan Indonesia (NKRI) sedangkan yang satu mewariskan ekonomi kerakyatan (Koperasi)

Saat ini banyak sekali bangsa / rakyat Indonesia tak mengenal Koperasi. Kalaupun mengenal akan berpaling muka, karena kurang tahu, kurang faham, atau kurang informasi, atau tak mau lagi berhubungan dengan koperasi karena telah dikecewakan oleh Pengurus Koperasi.

Negara Kesatuan RI selalu dilanda ketidak stabilan sejak berdiri sampai sekarang. Beberapa aliran dan oknum ingin memecah belah, termasuk didanai oleh asing, tetapi warisan Bung Karno tetap utuh.

Ekonomi Kerakyatan, sangat sulit berkembang karena banyak ekonom dan konglomerat ikut berkepentingan. Tuah (atau kesaktian) Ekonomi Kerakyatan pernah dibuktikan semasa krisis moneter tahun 1997 – 1998 di Indonesia. Semua Bank-Bank – perusahaan – perusahaan besar – dan BUMN/D lumpuh total. Semua pers luar negeri mengatakan Indonesia ekonominya hancur total, dan baru akan pulih 10 tahun lagi. Mengerikan. Namun, apa yang terjadi ??? Keajaiban terjadi, dalam waktu 3 bulan, ekonomi kerakyatan – UKM – ekonomi koperasi membangkitkan ekonomi Indonesia yang tidur. Dunia kagum akan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Mengapa bisa demikian ? Karena ekonomi kerakyatan tidak pernah dapat akses dengan bank. Bank-bank menolak direcokin oleh rakyat kecil. Tetapi tuah ekonomi kerakyatan sangat jelas, dan ini membuka mata semua pejabat negara, ekonomi kelas kaliber dunia, para kritikus ekonomi, maupun semua pelaku ekonomi Indonesia maupun dunia.

Meneliti dan mengamati yang dipelajari Bung Hatta, ternyata terdapat tiga hal mutiara koperasi yang perlu kita jalani kalau koperasi mau bangkit, berdiri, lalu bisa lari mengejar ketinggalan dengan negara lain. Bayangkan saja, kalau saja ada 50 juta anggota koperasi di Indonesia yang benar-benar baik, maka Indonesia sudah mulai sejahtera. Apa saja tiga mutiara itu ? Ternyata kalau kita teliti dan dalami sudah dimuat di UU No 25/1992 yaitu Undang-undang Koperasi.

Tiga pilar penting

Semenjak membaca Buku Bung Hatta, kita sudah bermaksud menggali dan mendalami latar belakang, mengapa Bung Hatta memilih koperasi dalam soko guru ekonomi Indonesia ? Hal itu disebabkan : (a) Kepemilikan koperasi adalah milik bersama-sama, atau pemilik koperasi adalah anggota (b) Modal koperasi dari anggota, diperuntukkan bagi anggota dan dikelola oleh anggota (c) Keuntungan (Surplus Usaha Anggota) diperuntukkan bagi anggota. (d) Kepengawasan Koperasi dilakukan oleh Anggota melalui Pengawas (e) Badan usaha koperasi dikelola secara transparan oleh Pengurus sebagai amanah dari Anggota.

Jadi, usaha koperasi sebenarnya sangat sederhana tetapi cukup rumit, sebab perkumpulan koperasi tidak mengandalkan uang, tetapi perkumpulan koperasi sangat menjunjung tinggi perkumpulan manusia-nya.

Negara USA dengan Presiden Barack Obama, disana (250 juta orang) terkenal dengan negara kapitalis, tetapi yang menjadi anggota koperasi ada 80 jt orang (30%)

Betapa sulitnya mengelola koperasi, sebenarnya Bung Hatta menempatkan koperasi di UUD 1945 membingungkan, tetapi dari arah banyaknya penduduk Indonesia lalu menjadi betul. Kalau ekonomi ditangan rakyat, maka akan sulit diterobos oleh kapitalis, sosialis, maupun neokapitalis. Disini letaknya, musuh-musuh koperasi dibidang ekonomi berolah sekuat tenaga agar koperasi tidak berkembang dibumi Indonesia, khususnya di pedesaan. Begitu banyaknya renternir, bank keliling, bank gelap, pinjam gampang, yang membelenggu rakyat pedesaan. Usaha Bung Hatta yang pertama adalah melalui pendidikan koperasi (co-op education). Lagi-lagi ada kendala, banyak rakyat desa buta huruf saat itu (1945 – 1960). pendidikan koperasi baru jalan pelan-pelan saat Presiden Suharto menjabat presiden. Sayang pendidikannya kurang menyentuh jatidiri manusia sebagai ciptaan Tuhan yang bebas untuk usaha. Dengan demikian, pendidikan dianggap gagal, padahal Koperasi tanpa pendidikan koperasi, berarti koperasi ”ngawur”. Maksud ngawur adalah Pengurus kurang faham koperasi, apalagi anggota biasa. Bayangkan seperti apa jadinya koperasi itu, paling 6 bulan pasti bubar. Pendidikan koperasi adalah alat paling penting untuk tegaknya koperasi. dengan pendidikan dan pelatihan koperasi

  1. Pengurus demikian juga Pengawas bisa tahu kwajiban-kwajibannya, cara mengelola, cara mengembangkan, membukukan, melayani, dan hak-haknya
  2. Dengan pendidikan anggota faham akan kwajiban-kwajibannya, hak-haknya, dan membantu Pengurus melebarkan sayap koperas
  3. Melalui pendidikan yang teratur, maka semua kekeliruan dan tindakan koperasi masa lalu bisa dibetulkan, diluruskan, agar menjadi benar dan menatap kedepan dengan penuh cita-cita mulia
  4. Dengan mengenyam pendidikan koperasi maka meniadakan kesalah pahaman, kejujuran bisa dipupuk, rencana – rencana bisa dibuat, dan masih segudang masalah bisa dibicarakan di pendidikan / pelatihan koperasi, termasuk kaderisasi, penilaian koperasi dan hakekat koperasi

Semakin hari, apabila pendidikan sudah jalan teratur (dengan dana pas-pasan saja, kalau perlu lesehan), akan terbentuk hal-hal positif tentang rasa mampu berdiri sendiri, atau mandiri, atau swadaya. Oleh Bung Hatta dipakai istilah self help (= mampu menolong diri sendiri). Self help inilah mutiara Bung hatta yang kedua, dan bisa meliputi:

  1. Self help dalam pendidikan / pelatihan
  2. Self help mampu menabung dikit demi dikit
  3. Self help dalam mengelola koperasi sehingga mampu RAT teratur
  4. Self help dalam permodalan koperasi sehingga tak tergantung kepada siapapun 9= mandiri)
  5. Self help dalam melayani simpan dan pinjam

Memang, self help terlihat sulit, namun kalau dijalankan dengan penuh ketekunan pasti berhasil. Banyak koperasi yang sinis dan menyangsikan benarkah ada Koperasi yang modalnya self help ?? Jawabannya, banyak bias menolong diri sendiri, yaitu dengan cara anggota semua harus menabung teratur. Anda tak percaya ? Ya, karena anda yang tak percaya belum melaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Kesulitan utama anggota tak mau menabung, antara lain :

  1. Pengurus, Pengawas, Manajemen, Pamong tak memberi contoh perlunya menabung teratur dengan tindakan nyata. Dengan kesadaran tinggi diperlihatkan kepada para anggota bahwa Pengurus mau menabung, maka anggota – pun pasti akan ikut menabung
  2. Selalu dan dimana-mana keluar kata-kata ”untuk makan tak cukup, koq menabung”. Tetapi balik kita bertanya untuk beli rokok dan pulsa ada uang, menabung mana ?
  3. Masyarakat tak tahu arti menabung dan manfaat menabung, sehingga cuek dan meremehkannya, pada hal menabung adalah untuk kepentingan dia semata-mata
  4. Kalau saja mereka sudah terlatih menabung maka akan ada suatu kebiasaan menabung yang sangat bagus.

Pilar yang ketiga dari Bung hatta adalah mutiara yang sudah ada diIndonesia yaitu gotong royong, bahasa kerennya solidaritas. Apabila semua hal sudah berjalan dengan baik yaitu pendidikan dan swadaya sudah ditangan, maka perlu menekuni yang ketiga yaitu mau bekerja sama dengan koperasi menularkan ilmu, kiat, cara dan teknik-teknik agar koperasi mau mandiri, tidak menyulitkan PEMDA, PEMKOT, PEMERINTAH, atau lain fihak.

Penutup

Bung Hatta telah meletakkan dasar-dasar, tinggal kita yang harus mau mengembangkan dasar-dasar tadi. tanpa Trilogi : ”Pendidikan – Self help – Solidaritas”, sepertinya koperasi di Indonesia akan seperti ini terus, lagu poco-poco akan cocok untuk menggambarkannya. Bantuan pemerintah apapun bentuknya bermaksud baik, tetapi oleh penerima bantuan dianggap hibah yang tak perlu ada pertanggungjawabannya. Dan ini, dipelatihan akuntansi Koperasi harus ada pertanggung jawabannya, bukan dihilangkan begitu saja. inilah bentuk kelemahan nyata koperasi di Indonesia. Mau merubah mindset koperasi ? Jalankah amanah Bung Hatta : Trilogi Koperasi, pasti hasilnya nyata ada.

 
joomla templateinternet security reviews

Alamat & Badan Hukum

Jalan Arif Rachman Hakim (Turi) No. 29B, Beji
Depok 16422
Telepon (021) 77200712

 

Badan Hukum No. 166/BH/PAD/KUKM/1.2/IV/2004
Tanggal 9 Mei 2004

Statistik Pengunjung

Hari Ini15
Kemarin12
Minggu Ini44
Bulan Ini163
Seluruhnya17981
University template joomla by internet security review