Ada Ubi Ada Talas, Ada Budi Pasti Terbalas |
|
|
Oleh : RAY Soesilo ”Jaminan untuk hidup layak berkecukupan dan sejahtera sudah dipancangkan oleh pendiri-pendiri Republik ini..” (Slogan motivasi bangsa) Prakata Semakin kita menghayati koperasi, maka badan usaha ini semakin menarik untuk dikaji di Indonesia. Sebab koperasi bukan perkumpulan uang tetapi perkumpulan manusia yang penuh dengan karakter, budaya, tradisi, usia dll yang unik Aneka Ragam Tradisi di Republik Indonesia sangat penting difahami dan dihayati bagi rakyatnya. Tradisi yang baik kita ambil hikmahnya, sedangkan tradisi yang merugikan kita buang jauh-jauh. Contoh sederhana, terdapat suku tertentu yang memiliki tradisi agar gadis-gadis dipinang dengan mahar sangat mahal. Akibatnya para pemuda tak kuat menyediakan mahar yang mahal, maka gadis-gadis lalu layu sampai usia tua belum juga ada yang meminang. Tradisi seperti diatas bagus tujuannya yaitu agar para pemuda mau bekerja berat menyediakan mahar yang mana membantu ekonomi para kerabat sang gadis. Namun kadang-kadang sang pemuda cekak rezeki, ya melarat sajalah dan pergi merantau mencari gadis lain dari suku lain yang maharnya cuma daun pisang dan ubi talas (cuma kasih sayang nan memanas) Tradisi di Indonesia bermacam-macam corak dan ragamnya, terutama cara hidup berekonomi di masyarakat. Ada masyarakat yang suka sekali menabung dalam hidupnya. Mereka sangat tak senang dengan cara-cara meminjam uang, umpama suku Tionghoa, Suku Dayak, dll. Sebaliknya, ada suku yang sangat suka meminjam uang dan lupa menabung sehingga seperti hidup boros saja. Suku ini gemar pesta wah, pergaulan adalah nomer satu. Nah, suku satu ini unik yaitu gemar menyendiri dan bergerombol dengan satuannya saja. Akibatnya seperti kurang bergaul, padahal mereka ini cerdas-cerdas anaknya/orang tuanya dan Bapak Ibunya. Mengamati banyak suku di Indonesia, lalu menjadi tahu bahwa kita ini memang Bhineka Tunggal Ika. Baru-baru ini saya bertemu teman lama (lain suku) yang sudah berpisah selama 50 tahun (1961 – 2011). Aku lupa-lupa ingat wajahnya, tetapi ia sangat yakin pada saya. Saat mengungkap nama-nama teman lama kita, saya semakin faham kalau teman saya ini dulu berperawakan paling kecil, aneh dan fasih berpidato (menggurui teman). Ia paling sebel dengan kita kalau ia sedang ngobrol sesama sukunya (bahasa Sunda), lalu kita ikut omong sunda tetapi artinya gak karu-karuan. Maklum, kita kepingin ramah dan berlatih bahasa sunda tetapi nggak ada yang diajak omong. Runyamlah kita semua. Suku yang paling mudah bergaul dan mudah dibuat menjadi ketawa karena sulit marah ya suku mana lagi kalau bukan Suku Djawa (Tengah). Mungkin karena paling banyak populasinya, maka dimana-mana disuruh jadi penengah / pengawas / pendamping / ketua panitia. Sebab apa ? Sebab kalau salah tindakan kita mudah saja : dimarahi, toh dia tak marah, karena ”nrimo” (menerima tindakan itu ). Ini lucu, tetapi kenyataan dimasyarakat Indonesia Wajar Sekarang ini, jaman Reformasi, dimana-mana memakai baju reformasi, akhirnya kebablasan. Tanda-tanda jamantak digubris lagi, yang dipakai Cuma akal sehat, bukan yang tersirat tetapi yang tersurat. Akhirnya ketenangan Republik terus menerus terganggu dengan orang-orang yang tak pernah ”meditasi” tak pernah ’khalwat’, tak tahu falsafah dan ’filsafat’ dan sederet olah pengekangan nafsu duniawi dicampakkan. Betapa hebatnya kekayaan bumi nusantara Indonesia. Minyak dibumi Indonesia sebentar lagi habis, tetapi gas bumi di Indonesia masih terus akan ada dan bisa dieksport. lautan Indonesia tak habis-habis menghasilkan devisa mulai dari ikan, rumput laut, mutiara, pariwisata, dan sederet usaha laut yang tak habis-habisnya. Apapun ditanam di bumi Indonesia selalu dan pasti tumbuh, sebab Indonesia hanya punya 2 musim, dan matahari selalu datang tiap hari menyinari bumi pertiwi kita. Banyak orang Indonesia mengatakan : ”Bila anda sudah pernah ke luar negeri beberapa kali, maka Bumi Nusantara yang paling cantik di Bumi ini”. Benarkah ? Memang benar demikian. Di Indonesia apapun murah dan terbeli secara wajar. Lalu saya pernah bersantai dengan orang bule, ia mengatakan orang-orang Asia tenggara biasanya cerdas dan pandai bergaul, ramah, dan santai. Kata dan perbuatan jauh berbeda, kata-kata banyak tetapi bekerja sedikit saja. Ini ciri khas orang-orang Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Benarkah ? Mari kita resapi saja, yang penting ada ubi ada talas ada budi pasti terbalas. Apa artinya ? Semangat berbuat baik pasti dibalas dengan perbuatan lain yang baik juga, meski kita terkadang tak tahu pembalasan baik itu. Uniknya CU Asal muasal Koperasi memang dari negara barat (Jerman, Swedia, Skandinavia, Inggris, Kanada, USA) dan kalau Koperasi Kredit dianggap yang paling kebarat-baratan juga tidaklah ! Jaman Raiffeisen koperasi simpan pinjam sudah ada di Jerman, dan KSP ini sekarang namanya diadop oleh KSP-USP di Indonesia. Credit Union (= Koperasi Kredit) memang khas bentuk dan cara pengelolaannya. Bentuk awal namanya bukan CU tetapi SC = “Saving and Credit” (lahir 1900 di Canada), tetapi lama kelamaan menjadi Credit Union, setelah menuntaskan “sekolah uji coba di USA” dengan diterapkan Undang-Undang tentang Credit Union. Ini memang aneh tetapi nyata, Credit Union (CU = Koperasi Kredit) telah menjadi kakek, tua renta, dan jenggotan dengan usia 111 tahun (1900 – 2011), toh tetap gagah, tegar, dan gesit melalang dunia sampai di 94 negara di dunia. Koperasi Kredit masuk Indonesia pada tahun 1965 dan diperbolehkan hidup sejak 1970, meski baru diberi nomer Badan Hukum tahun 1998 secara resmi. Apa dan bagaimana keistemewaan Credit Union ? Unik. Inilah keistemewaan tersebut :
Penutup Ada ubi ada talas, siapa berbuat budi pasti mendapat balas. Balasan ini, bisa di dunia bisa diakhirat dan itu tak perlu kita perhitungkan, yang penting berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya antar sesama manusia. Sampai jumpa.
|
